Selasa, 01 Januari 2013

Muhammad Al Fatih 1453


 

Muhammad Al Fateh, sudah lama saya menokohkan dirinya sebagai salah satu manusia paling inspiratif baik kisah hidupnya, jiwa leader, ketaqwaannya pada sang Pencipta. Saya mendengar tentang dirinya kali pertama dari diskusi pemuda tentang perjuangan tokoh islam, ketika itu tentang pembebasan kota Konstantinopel dan kepiawaian memimpin pembebasan  diusia 21 tahun. Karena penasaran dan tertarik saya langsung search di dunia maya, saya temukan di youtube, video yang menggambarkan sekaligus menceritakan perjuangan pembebasan Konstantinopel.

Benar-benar “subhanaallah” perjuangan kala itu, mulai dari keinginan yang kuat untuk menduniakan agama islam dan menaklukkan Konstantinopel sebagai kota islam di benua Eropa. Hingga kebenaran sabda Rasulullah terbukti “sungguh, Konstantinopel akan ditaklukkan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukkannya”. (HR. Ahmad)
Beberapa bulan kemudian, rasa penasaran itu mulai terjawab. Saya menemukan buku yang dengan sangat detail mengisahkan perjuangan Muhammad Al Fateh dalam perjuangan menaklukkan Konstantinopel, kota impian bagi bangsa diseluruh dunia di abad itu dan abad sebelumnya. Muhammad Al Fateh 1453 oleh uztad Felix Y. Siauw.
Mengulas dari bab awal buku ini berikut yang bisa saya ceritakan ulang, Konstantinopel merupakan wilayah dengan letak strategis terhampar di daratan berbentuk segitiga seperti tanduk dan terletak di sebelah barat Selat Borphorus yang memisahkan antara Benua Eropa dan Asia. Disebelah utara terdapat Teluk Tanduk Emas (Golden Horn), sebuah pelabuhan alami yang sempurna.

 
Kota Konstantinopel

Konstantinopel didirikan ribuan tahun yang lalu oleh pahlawan legendaris Yunani; Byzas, kota ini dinamai sesuai dengan namanya Byzantium. Pada 324, Kaisar Konstantin memindahkan ibukota Romawi Timur ke kota ini dan sejak itu namanya diubah menjadi Konstantinopel dan negaranya disebut Byzantium. Sebagai ibukota imperium pada masanya, Konstantinopel dihuni oleh berbagai etnis dan bangsa yang didominasi oleh etnis Yunani. Kaisar Konstantin menjadikannya sebagai “kota yang paling diinginkan di seluruh dunia” dengan memperkeras seluruh jalan kota dengan batu porfiri dan gedung-gedung marmer di kanan kirinya. Juga terdapat hippodrome yang dapat menampung ratusan ribu orang untuk menyaksikan pacuan kuda.

Mehmed II, anak yang kelak ditakdirkan untuk menjadi sebaik-baik panglima penakluk Konstantinopel dan kelak akan menjadi ahlu bisyarah yang membuktikan ucapan Rasulullah saw lahir di Edirne, 8 tahun setelah mengepung Konstantinopel oleh ayahnya Murad II. Dikatakan bahwa ketika menunggu kelahirannya, Murad II menenangkan diri dengan membaca Al-Qur’an dan lahirlah anaknya saat bacaannya sampai pada surah Al-Fath, surat yang berisi janji-janji Allah akan kemenangan kaum muslim. Mehmed adalah anak laki-laki ketiga dari tiga bersaudara, saat berumur dua tahun ia dikirim bersama Ahmed kakak tertuanya ke Amasya, kota tempat mempelajari pemerintahan bagi keluarga kesultanan. Ketika berumur enam tahun, Mehmed yang belia sudah diangkat menjadi gubernur Amasya menyusul lematian tiba-tiba kakaknya Ahmed. Sekitar 1433, Ali bin Murad dibunuh oleh seorang Turki yang kemungkinan besar kaki tangan Byzantium, akhirnya Mehmed menjadi tumpuan harapan.

Dibawah bimbingan Syaikh Ahmad Al-Kurani dan Syaikh Aaq Syamsuddin untuk mengarahkan kekerasan watak Mehmed dan membentuk kepribadiannya.  Mengenai Ahmad Al-Kurani, Imam Suyuthi menulis, “sesungguhnya ia adalah orang yang berilmu lagi fiqih. Para ulama pada zamannya telah menjadi saksi atas kelebihan serta kekonsistensian beliau. Dan ia melampaui rekan-rekannya dalam ilmu-ilmu ma’aqul dan manqul. Mahir dalam nahwu, ma’ani dan bayan, serta fiqh dan masyhur dengan berbagai keutamaan”. Sedangkan Aaq Syamsuddin adalah ulama yang nasabnya bersambung pada Abu Bakar Ash-Shiddiq dan seorang polymath (seseorang yang pengetahuannya tidak terbatas hanya pada satu bidang) sebagaimana kebanyakan ulama kepada masanya. Aaq Syamsuddin menjadi seorang hafids Al-Qur’an pada usia 7 tahun dan sangat ahli dalam biologi, kedokteran, astromi dan pengobatan herbal.

Namun, ulama yang sangat berpengaruh dalam membentuk mental seorang penakluk adalah Syaikh Aaq Syamsuddin. Setiap hari senantiasa menceritakan perjuangan Rasululullah dan pengorbanannya dalam menegakkan Islam, serta menanamkan kepribadian Rasul melalui sirah-nya kepada Mehmed. Bahkan, Syaikh Aaq Syamsuddin selalu mengulangi perkataanya pada Mehmed, bahwa dirinyalah pemimpin yang dimaksud hadits Rasulullah yang diriwayatkan Ahmad, “Konstantinopel akan takluk di tangan seorang laki-laki maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan tentara adalah tentaranya”.

Dalam perjalanan ke Selat Bosphorus, Mehmed mengunjungi benteng Anadolu Hisari yang dibangun leluhurnya Beyazid I. Pada awal 1452, 5.000 pekerja dikumpulkan Mehmed di Edirne dan siap untuk merealisasikan benteng yang diimpikan sang sultan. Pada 15 April 1452, pekerjaan dimulai. Mehmed membangun benteng barunya dengan tiga menara utama yang didedikasikan kepada tiga wazirnya; Halil Pasha, Zaganos Pasha dan Saruja Pasha. Tepat 31 Agustus 1452, raksasa baru penjagal Selat Bosphorus ini selesai. Selain menambah pertahanan benteng Anadolu dengan menambah menara-menara penjaga dan tembok pertahanan juga dengan meriam-meriam sebagaimana di Rumeli Hisari sehingga tidak satupun kapal dapat melalui Selat Bosphorus, “bahkan satu burung pun tidak akan dapat terbang dari Laut Mediteranian ke Black Sea”.

Kepanikan melanda Byzantium juga Eropa ketika Rumeli Hisari mulai difungsikan. Pada 26 November, dua bulan setelah proses isolasi kepada Konstantinopel yang dilakukan Mehmed, dua kapal Venesia berhasil menerobos blokade Rumeli Hisari dan memberikan bantuan pangan kepada Konstantinopel, tapi tidak dengan kapal ketiga, kapalnya karam dengan sekali tembak.
Awal tahun 1453 menandai harapan baru bagi Konstantinopel. Setelah unifikasi maka bala bantuan dari Eropa mulai berdatangan ke kota. Walaupun terkesan tidak maksimal, seadanya dan tidak sesuai dengan janji awal, kedatangan tentara bantuan cukup melegakan hati Constantine. 

 
Meriam yang dibuat Orban untuk menggempur tembok pertahanan Konstantinopel

Persiapan Mehmed selain membangun benteng juga membuat meriam-meriam yang dikerjakan oleh Orban, meriam paling besar belum pernah dilihat siapapun di zamannya. Lima meriam yang berhasil diselesaikan Orban dengan panjang 4,2 meter dipasang di Rumeli Hisari untuk pengaman Selat Bosphorus. Cetakan berikutnya dengan ukuran 8,2 meter dengan lubang peluru berdiameter 70 cm.
Sistem angkatan laut Utsmani sangat sederhana dan dianggap sebagai satu divisi militer dari angkatan daratnya. Awak-awak kapal kebanyakan diambil dari akademi Yeniseri dan dipimpin oleh Amir Al-Bahri atau Captain of The Sea. Secara umum kapal dibagi atas dua jenis: Cektiri atau Cekdirme (tipe galley dan kapal dayung) dan Yelkenli (kapal tipe galleon) dengan layar. Ketika berangkat menuju Konstantinopel, setidaknya 400 kapal perang berhasil dikontruksi dan digerakkan oleh Sultan Mehmed menuju Konstantinopel.

Tepat pada 23 Maret 1453, pada hari Jum’at yang suci bagi kaum Muslim, Sultan Mehmed bertolak dari Edirne dengan seluruh pasukan artileri, kavaleri dan infanterinya. Pasukan berjalan seolah membelah bumi menjadi dua bagian dengan barisan yang panjang, derap kaki mereka beradu dengan tanah menyibakkan debu yang menandai semangat dan dedikasi mereka kepada Islam. Dalam ekspedisi ini, ambisi Mehmed dalam usaha menjadi panglima terbaik dengan menaklukkan Konstantinopel terlihat jelas, total pasukan yang dikumpulkannya mencapai 250.000 personil, angka yang sulit dipercaya pada masa itu.

Tepat tanggal 6 April, Sultan Mehmed beserta iringan pasukan pengawalnya terlihat. Dengan barisan sepanjang 4 km Sultan mengimami pasukannya salat Jumat dan meminta kemudahan kepada Allah untuk menaklukkan Konstantinopel. Sphrantzes sang penasehat Kaisar Constantine menyampaikannya dalam rangkaian kata “his army seemed as numberless as grains of sands, spread… across the land from shore to shore”.

Pada 11 April, semua iringan senjata telah datang dan siap untuk digunakan, totalnya sekitar 69 laras. Tanah di bulan April yang selalu basah karena hujan menjadi tantangan tersendiri bagi para ahli meriam Utsmani. Hal yang menarik dari meriam tersebut terukir kalimat “Tolonglah Ya Allah! Sang Sultan Muhammad Khan bin Murad”, tersirat pesan bahwa kemenangan dan kemuliaan hanya bersumber dari Allah.
Pada 18 April, 2 jam setelah azan dan shalat magrib dilaksanakan berjama’ah  dan doa permohonan kepada Allah Swt dilantunkan, Sultan memerintahkan serangan umum dalam skala besar dengan diiringi teriakan takbir yang bergemuruh dan suara musik perang Ustmani. Setelah serangan selama 6 jam yang melelahkan, pasukan belum mampu menembus tembok Konstantinopel.
Pada 19 April 1453, seluruh serangan darat maupun laut kaum Muslim dapat dinetralkan oleh pihak bertahan. Pada 21 April, Sultan membawa 10.000 pasukan berkuda menuju Double Columns untuk meminta pertanggungjawaban Kapten Baltaoghlu atas lolosnya 4 kapal Genoa sekutu musuh.

Kesulitan disadari oleh Sultan, selama Teluk Tanduk tidak dapat mereka akses maka selama itu pula pengepungan akan menjadi sulit. Karena itu, pembicaraan difokuskan pada pertanyaan “bagaimana Teluk Tanduk bisa direbut, sedangkan rantai raksasa menghalangi pada pintu masuknya?”. Kedua rantai yang mengikat begitu kokoh dan menara serta tembok begitu kuat untuk dihancurkan.

Ditengah diskusi antar petinggi militer, Sultan Mehmed akhirnya menengahi dan tercetuslah sebuah solusi yang tak terbayangkan sebelumnya dan oleh siapapun “bila kita tidak dapat memutuskan rantai itu, kita akan melewatinya”. Melewati yang dimaksud Sultan ialah melewati rantai raksasa melalui jalur darat, dengan cara mengangkat kapal-kapal dari Galata Double Columns di Selat Bosphorus melewati daratan Galata menuju Valley of Springs di Teluk Tanduk Emas. Terdengar mustahil, namun tak satupun menganggapnya begitu, keimanan mereka hendak diuji, seberapa besar keinginan mereka menjadi pasukan terbaik dan berjuang dijalan Allah. Pada tanggal 21 April 1453, pasukan Konstantinopel terbangun pada pagi hari ketika mendengar takbir berkumandang dari arah Teluk Tanduk Emas. Merasa ada yang tidak beres mereka berlari kearah sumber suara, tak seorangpun melihat pemandangan itu, pasukan dengan ukiran syahadat ditemani bendera merah-hijau Utsmani dengan lambang bulan sabit berkibar-kibar megah. Ketika mereka mengarahkan pandangannya kebawah, nampaklah bagi mereka pekerjaan yang digerakkan oleh langit. Kapal-kapal itu terus bergerak, bagaikan membelah bukit dengan ketinggian rata-rata 60 meter diatas permukaan laut.
Ratusan laki-laki membantu mengerahkan dan menarik tali-tali yang diikatkan pada tubuh mereka. “sebagian kapal mengibarkan layarnya dengan teriakan-teriakan kuat seolah mereka sedang berlayar di lautan dan angin-angin meniup layar hingga menggembung. Yang lainnya duduk mengambil posisi mendayung dan menggerakkanya maju dan mundur, seolah mereka sedang mendayung di lautan lepas. Komandan kapalnya naik ke atas kapl untuk memberikan perintah dengan pekikan-pekikan yang menyemangati para pendayaung”. Yang paling istimewa semuanya terjadi hanya dalam 1 malam, Sultan melakukannya denga kejeniusan logistik yang berasas pada satu kata; kecepatan. Pasukan berkata dengan lirih “Inilah akhir dari Konstantinopel”. Dan pasukan Utsmani berhasil menduduki Teluk Tanduk Emas. To look beyond the eyes can see.

Sultan Mehmed kembali menunjukkan pekerjaan yang menjadi ciri khasnya; penuh kerahasiaan dengan kecepatan dan skala besar. Sultan berhasil membuat menara perlindungan dari kayu dengan tinggi menyamai tembok perlindungan benteng dalam waktu hanya kurang dari 1 hari dan sangat mengejutkan lawan. Penyerangan diantara keduanya terjadi secara terus menerus meski kekuatan dan pertahanan pasukan Konstantinopel belum mampu ditembus oleh Utsmani, namun hal ini tidak meyurutkan langkah Sultan Mehmed untuk menaklukkan Konstantinopel sebagai negara Islam. Pada tanggal 28 Mei 1453 Sultan dan pasukannya berpuasa sunnah sebagai bentuk permohonan kepada Allah agar memudahkan penaklukkan dengan menyucikan diri dari maksiat kepada-Nya serta meluruskan niat bahwa penyerangan ini hanya untuk Allah semata. Pasukan dibagi atas dua gelombang, gelombang pertama didominasi oleh pasukann azap, pasukan non-reguler yang merupakan bagian paling besar dari pasukan Utsmani, sedangkan pasukan kedua disusun dari para Akinci dan Sipahi, pasukan Antolia dan Eropa. Dengan cara ini pasukan bertahan akan dipaksa menghadapi kaum Muslim berjam-jam yang akan membuat ketahanan mereka menurun. Sultan menyederhanakannya dengan kalimat:
“Saat kita telah memulai penyerangan maka pertempuran tidak boleh dihentikan, kita tidak boleh tidur atau makan, minum ataupun beristirahat, kita tidak boleh lalai, kita harus melakukannya dengan tekanan kepada mereka sampai kita bisa menguasai mereka dalam pertempuran”.
Saat perang besar tiba, keadaan semakin mendesak Sultan Mehmed kini dihadapkan dua pilihan sulit. Semua pasukannya telah dikerahkan, namun kesemuanya belum mampu menghabisi perlawanan pasukan bertahan. Jumlah mereka mungkin tertinggal 7.000 orang saat itu. Pasukan Yeniseri bergerak dengan barisan lebih teratur daripada kedua pasukan sebelumnya. Giustiniani segera menyambut mereka dengan “tombak, lembing, galah panjang, serta senjata-senjata lain”, panah ditembakkan kearah pasukan Yeniseri, pertempuran jarak dekat satu lawan satu pun pecah diremang-remang cahaya fajar, dentingan pedang, kucuran darah, cercaan dan pekikan kematian berkumpul, sementara meriam-meriam Utsmani tidak hentinya memborbardir tembok Konstantinopel. Hasan Ulubat didampingi 30 tentara Yeniseri, mendobrak pertahanan lawan, di tangannya terpasang bendera Utsmani yang akan ditancapkan di atas gerbang St. Romanus. Dengan penuh perjuangan, kelompok kecil ini sampai di puncak gerbang, luka akibat panah dan sayatan pedang tak membuatnya goyah atau menyerah. 17 tentara Yeniseri dibantai, Hasan Ulubat telah berhasil memancangkan bendera Utsmani di atas gerbang, takbir pun menggelegar tatkala ia segera dicincang oleh pasukan Byzantium. Melihat bendera telah berkibar, Sultan segera berteriak kepada seluruh pasukannya, “kota itu milik kita!”.
 
Hagia Sophia Inside

Dalam waktu hanya ¼ jam, 30.000 pasukan Muslim telah berada di dalam kota. Hingga tiba saat-saat yang dinanti-nanti oleh Sultan dan pasukan memasuki kota Konstantinopel pada tanggal 20 Jumadil Ula 857 H pada tahun penanggalan Islam, bertepatan hari Selasa 29 Mei 1453, Sultan Mehmed II memasuki kota dari gerbang Charisan. Lalu, ia berkuda menuju gereja Hagia Sophia, bangunan paling bergengsi dan luas pada masanya, landmark paling bergengsi di dunia. Sultan turun dari kuda, lalu berjalan beberapa langkah dan bersujud kepada Allah, mengambil segenggam debu, lalu menumpahkannya keatas surbannya sebagai bentuk syukur dan kerendahan manusia dihadapan Allah Swt. Sultan segera memutuskan agar Hagia Sophia menjadi masjid kota, seketika itu pula Sultan meminta agar azan dikumandangkan di Hagia Sophia dan semenjak itu pula azan selalu dikumandangkan di langit Konstantinopel.

Pada hari itu pula, Sultan menunjuk Paderi Kristen Ortodoks, yaitu pendeta Gennadius Scholarius dalam mengurusi urusan agama kristen dan memberikan kesempatan untuk menjalankan ibadah mereka di rumah-rumah ibadah mereka. Jum’at pertama setelah penaklukkan, 1 Juni 1453, Sultan mengadakan Shalat Jum’at kali pertamanya di Konstantinopel. Selain itu,  Sultan Mehmed juga mengganti nama kota menjadi Islambol, dalam bahasa Turki berarti “penuh dengan Islam”.

Sultan dengan usia muda 21 tahun penuh ketakwaan terhadap Allah Swt dan sangat terinspirasi oleh Rasulullah. Setiap sikap dan perbuatan yang dilakukan selalu menggunakan dasar keimanan terhadap Allah Swt, “See beyond the eyes can see”, Melihat lebih daripada yang bisa dilihat oleh mata.
Pada 1457-1460, lewat ekspedisi-ekspedisi yang tak kenal lelah seluruh wilayah Yunani dan kepulauannya yang masih dikuasai oleh Thomas dan Demetrios. Pada 1463 menguasai Bosnia dan 1466 sampai ke Albania sampai Moldovia pada 1475. Jalan menuju Roma terus-menerus dibangun, selain membebaskan wilayah Eropa di sebelah Barat, Karaman berhasil ditaklukkan pada 1468. Teringat  pada 1453, ketika Sultan memasuki  gerbang kota Konstantinopel sambil bersyukur kepad Allah Swt serta berucap
“Aku bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kemenangan yang gemilang ini; akan tetapi, aku juga berdoa kepada-Nya agar Dia mengizinkanku hidup lebih lama lagi untuk mengepung dan menaklukkan Roma Lama sebagaimana Aku memiliki Roma Baru”.

Hingga pada tahun 1479, Sultan sampai di perbatasan Italia sebelah utara Venesia, menaklukkan Friuli dan Isonzo, kala itu pasukan Muslim terdengar meneriakkan dengan lantang “Roma..! Roma..!”.  Setelah mendapat perlawanan akhirnya Sultan berhasil menaklukkan Otranto, dan ketika akan melanjutkan penaklukkan Roma, Sultan Mehmed terlihat tidak seperti biasanya, fisiknya terlihat kurang baik, malahan penyakit radang sendi yang dideritanya semakin parah. Namun, semua itu tidak menghentikannya untuk menggenapi sabda Rasulullah Saw. Pasukan yang paling istimewa telah disiapkan untuk membebaskan Roma. Tapi, ternyata Allah berkehandak lain, Allah berkehendak untuk membagi dua pahala pembebasan yang telah terjanjikan itu. Muhammad Al-Fatih menutup usianya dalam kondisi bersiap untuk membuka Roma pada 3 Mei 1481 dalam usia 49 tahun. Ketika seorang pembawa pesan sampai ke Roma, ia segera memberikan suatu surat kepada Paus dan ketika dibuka, pesannya berbunyi sederhana: “la grande aquila e morto” – elang perkasa itu sudah mati.

Kematian Sultan Mehmed II dirayakan secara besar-besaran, meriam-meriam dibunyikan dan lonceng-lonceng gereja dibunyikan selama tiga hari berturut-turut.
Kenyataannya, peristiwa penaklukkan 1453 bukan hanya mengubah Kesultanan Utsmani, namun ia telah mengubah wajah dunia. Pembebasan Konstantinopel menjadi pembangkit semangat kaum Muslim tatkala Khilafah Abbasiyah sedang berada dalam kondisi yang sangat lemah setelah Perang Salib dan serbuan Mongol. Penaklukkan Konstantinopel telah memberikan dasar bagi Khilafah Utsmaniyah yang akan dibentuk setelahnya.
Semoga dari semua perjuangan dan ketakwaan yang dilakukan oleh Muhammad Al Fatih, mampu menginspirasi dan menggerakan kita untuk dapat menjadi hamba Allah yang bertakwa dan mampu berjuang menyebarkan Islam, bahwa Islam adalah agama penuh cinta dan kasih, agama yang damai. Semoga Sultan Mehmed dengan inspirasi kepribadian Nabi Muhammad Saw mampu menjadi patron bagi banyak kaum muda di seluruh dunia Islam dan perjuangannya selalu diingat seumur hidup umat Islam, hingga kita mampu melanjutkan perjuangan menegakan kebaikan Islam di dunia, Allahuma amin.
Oleh :
Pebri Nurhayati
Mahasiswa Pendidikan Geografi UNY

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar