Kamis, 03 Januari 2013

Mau travelling biaya murah meriah? Yuh gabung dengan komunitasnya

artikel ini diambil dari sebuah mailing list
——————— Disadur dari Harian Jawa Pos, 25 Maret 2010….
Siapa tau ada yang berminat backpacker-an around the world
Lumayan kalo mo cari tumpangan or penginapan.

cheers,
Bertha
*yg 2thn lalu nyaris tidur di Gare du Nord, Paris Station*
Anggota Pemburu Bule Jadi Ancaman Terbesar
Jika ingin berkeliling ke luar negeri, tapi modal pas-pasan, Anda bisa menghubungi Nancy Margaretha di Jakarta. Dia telah ditunjuk sebagai country ambassador alias duta besar bagi komunitas backpacker dunia untuk Indonesia.
ZULHAM MUBARAK, Jakarta—

KUNCI melakukan perjalanan keliling dunia, bagi Nancy Margaretha, ternyata bukan harus berkantong tebal. Tapi, kejujuran dan keterbukaan. ”Sebab, dua hal itu akan membuka akses Anda sehingga bisa berkeliling dunia dengan murah,” ujar ibu tiga anak yang tinggal di daerah Kelapa Gading, Jakarta, tersebut kepada Jawa Pos kemarin (24/3).

Nancy tidak sekadar ngomong. Selama lima tahun (2005-2010), sedikitnya 30 negara sudah dia datangi. Perempuan 31 tahun berambut sebahu tersebut menambahkan, sebenarnya trik berjalan-jalan keliling dunia secara murah ada pada kemauan seseorang.

Salah satu cara yang paling mudah adalah ikut bergabung dalam komunitas backpacker terbesar di dunia yang memiliki situs di couchsurfing. com yang kini beranggota sekitar 2 juta backpacker. Komunitas itu memiliki perwakilan di 236 negara dan 71 ribu kota di seluruh penjuru dunia.
Dengan menjadi anggota situs komunitas backpacker itu, siapa pun bisa menghabiskan berbulan-bulan keliling Eropa, Amerika Serikat, hingga Australia dengan hanya bermodal tiket pesawat murah. Biaya menjadi murah karena member tidak perlu membayar hotel atau penginapan. Mereka diarahkan menjadi ”tamu” di rumah-rumah anggota komunitas tersebut yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Nancy lantas menjelaskan secara singkat bahwa couch itu berarti sofa, sedangkan pengertian surfing adalah browsing atau mencari. Jadi, lanjut dia, couchsurfing adalah mencari-cari sofa yang bisa diinapi ketika seorang pelancong berada di luar negeri. ”Semudah itu,” ujarnya singkat.
Sistem couchsurfing adalah bertamu dan menginap di rumah para anggota komunitas backpacker sedunia. Dari belajar bertamu ke rumah orang lain itu, lanjut Nancy, seseorang bisa mengerti apa yang harus dikerjakan. Sebaliknya, mereka juga harus mengetahui tata cara ketika sedang menginap di tempat orang lain.

”Dengan demikian, bila suatu saat nanti kita menerima tamu-tamu yang menginap di rumah kita, baik tamu lokal maupun internasional, kita sudah tahu cara memosisikan diri,” papar lulusan College University London itu.

Menurut Nancy, awalnya Indonesia tidak termasuk salah satu negara yang diberi akses untuk bergabung dalam komunitas tersebut. Sebab, jumlah warga Indonesia yang hobi berkeliling dunia dengan modal pas-pasan dan bersedia diinapi orang asing di rumah mereka sangat minim.
Untuk mendapat kepercayaan komunitas bakcpacker dunia tersebut, sejak 2005 Nancy dan beberapa rekannya sesama pelancong bergerilya ke kota-kota besar di Indonesia dan keluar masuk kampus serta lewat media online mengampanyekan hobi itu.

Wanita yang berprofesi sebagai programmer tersebut kemudian berhasil meraih capaian maksimal. Setelah hampir lima tahun berkampanye secara sukarela sejak 2005, tahun ini anggota couchsurfing di Indonesia mencapai 10 ribu orang dengan akun aktif 6.700. Mereka tersebar di kota-kota besar.
Di antaranya, dua ribu orang di Jakarta, Surabaya dan Malang (800), Jawa Barat (600), Jogja (500), dan sisanya tersebar di Pontianak, Makassar, serta Banjarmasin. ”Saya hafal betul karena mereka riil dan kenal jati dirinya,” terang perempuan yang hobi mengoleksi uang koin dari sejumlah negara yang dikunjungi tersebut.

Jerih payah Nancy itu lantas diapresiasi komunitas backpacker dunia. Pada 2007, dia dikukuhkan menjadi city ambassador (duta besar kota) khusus untuk wilayah Jakarta. Setahun kemudian, dia dipercaya menjadi country ambassador (duta besar untuk seluruh Indonesia).

Sebagai duta besar, Nancy menyatakan, setiap anggota atau calon anggota komunitas pernah berkomunikasi dengan dirinya. Dia pun telah mempelajari latar belakang ribuan orang tersebut. Hal itu dilakukan karena dirinya bertugas memastikan bahwa anggota komunitas tersebut tak pernah terlibat perkara kriminal dan memang bertujuan baik ketika mendaftar di situs backpacker.
Nancy bertanggung jawab mengarahkan para pelancong dari luar negeri yang akan menginap di rumah anggota di Indonesia dan sebaliknya. ”Karena saya yang menjamin, saya harus berhati-hati dan penuh perhitungan’ ‘ tegasnya.

Langkah awal yang ditempuh untuk mengetahui apa dan siapa anggota komunitas itu adalah ketika mereka hadir dalam pertemuan komunitas yang rutin dilakukan di berbagai kota. Kegiatan couchsurfing tersebut, kata dia, hampir sama dengan kegiatan-kegiatan berinteraksi sosial lain.
Misalnya, traveling bersama dalam sebuah grup Travelmates dan dimulai dari keliling Indonesia sampai keliling dunia. Selain itu, mengadakan workshop dan sharing informasi serta pengalaman bagaimana cara bepergian semurah-murahnya tapi tetap aman, nyaman, dan menyenangkan.

Ketika bertemu itulah, rutinitas cek dan kroscektersebut dilakukan untuk mengenali anggota serta menjamin siapa pun yang menjadi anggota memenuhi asas kejujuran dan keterbukaan. ”Artinya, saya percaya bahwa ketika seorang pelancong asing menginap di tempat mereka atau ketika mereka hendak pergi ke luar negeri, saya tidak khawatir,” lanjutnya.

Tapi, menurut dia, para anggota couchsurfing tidak selalu berasal dari kalangan baik-baik saja. Dia menyatakan kerap bertemu komunitas wanita ”pemburu bule” dan pencari kenikmatan seksual. Lazimnya, kata dia, orang-orang itu mendaftar menjadi anggota dan berharap bertemu pelancong yang bisa diajak ke tempat tidur. Bila beruntung, mereka bisa mendapatkan suami atau istri dari ras tertentu. ”Itu adalah ancaman terbesar kami dalam memelihara komunitas ini,” tegasnya.

Karena itu, untuk memperketat anggota baru, akun yang tidak dipakai selama enam bulan dan tidak aktif dalam pertemuan komunitas akan dimatikan. Selain itu, jika dalam pertemuan komunitas sudah ”mencium” indikasi adanya wanita atau pria ”pemburu bule”, Nancy pasti segera mengeluarkan mereka dari komunitas. ”Saya memang kasar. Artinya, kalau ketahuan seperti itu, ya langsung saya pribadi yang akan mengeluarkan dan menutup aksesnya,” ujarnya.

Tapi, hal itu juga berlaku sebaliknya. Saat ini, Nancy sudah menampung sedikitnya 200 pelancong dari luar negeri di rumahnya. Ketika itu, dirinya juga menemukan hal serupa. Yakni, para pelancong yang berniat mencari teman wanita atau pria dari Indonesia.

”Kalau saya temukan indikasi mereka nakal dan cari-cari untung, langsung saya usir dan itu juga saya sarankan kepada para anggota lain. Selanjutnya, akun orang tersebut diblokir, sehingga tidak akan bisa mendapat akses serupa di seluruh dunia,” paparnya.

Penulis buku Backpacking Modal Jempol Keliling Eropa 500 Ribu Per Bulan itu mengungkapkan, dirinya membenci kebiasaan orang Eropa dan orang kulit putih yang selalu merasa dominan serta cenderung merendahkan orang Asia. Karena itu, dia selalu mengampanyekan agar para anggota couchsurfing di Indonesia tidak terlalu meninggikan dan sebaliknya agar tamu dari luar negeri tidak terlalu merendahkan anggotanya.

”Sebab, sebenarnya kita semua sama-sama manusia. Jadi, tidak saling merendahkan, tapi harus saling menghormati, ” tegasnya.

Walaupun tidak mendapat keuntungan finansial dari kegiatan tersebut, Nancy menyatakan sudah mendapat keuntungan lain. Yakni, kemudahan akses jika dirinya hendak bepergian ke mana-mana. Melalui jaringan anggotanya, dia bisa berpindah dari rumah ke rumah dan berkeliling Indonesia.
Bahkan, yang paling berkesan adalah ketika dia melakukan perjalanan ke Eropa tahun lalu. Ketika dirinya menyatakan hendak berangkat di situs backpacker, tercatat ada 2.600 orang yang menawarkan diri menampung Nancy selama berada di Eropa.

Dengan kemudahan itu, dia pun bisa menikmati keuntungan menjadi duta besar couchsurfing. ”Karena ini adalah jaringan silaturahmi, tentu kebahagiaan tersendiri bila kita saling bersilaturahmi antara warga dunia,” katanya mengakhiri wawancara.

Sumber : http://achmad.glclearningcenter.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar